Kemana Lebih Dulu, Psikiater atau Psikolog?

Pertanyaan seperti ini sering saya dapatkan ketika saya memberikan ceramah untuk masyarakat awam maupun dunia medis. Demikian juga ketika saya memberikan kuliah pada mahasiswa kedokteran dan mahasiswa psikologi baik S1 maupun S2.

Ketika saya surfing di internet, saya juga menemukan banyak topik dalam blog maupun forum yang mencoba memberikan penjelasan kemana lebih dulu seharusnya seseorang itu datang berkonsultasi dan sayangnya banyak jawaban yang ada tersebut tidak memberikan pendapat yang objektif. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya jawaban yang mengatakan bahwa kalau merasa gangguannya belum berat, maka datang saja dulu ke psikolog.

Saya akan mencoba menjelaskan dengan lebih objektif. Pertama-tama saya akan menjawab bahwa datang ke mana lebih dulu itu tergantung dari keperluan (NEED) klien/pasien karena psikolog dan psikiater itu adalah dua profesi yang serupa tetapi tak sama.
Saya akan menjelaskan lebih lanjut mengenai psikiater dan psikolog.

Apa itu Psikiater?

Psikiater adalah dokter spesialis kedokteran jiwa, jadi seorang psikiater harus lulus sebagai dokter umum dulu dan kemudian melanjutkan studinya dengan bekerja selama minimum empat tahun di Rumah Sakit, tepatnya di poliklinik spesialis psikiatri baik rawat jalan dan rawat inap psikiatri maupun poliklinik spesialistik kedokteran lainnya, sebelum akhirnya diuji oleh Kolegium Psikiatri di negara ia berpraktek. Jadi dari asal muasalnya, psikiater adalah dokter. Nah bagi siapapun yang membutuhkan dokter untuk pengobatan maka langsung saja datang ke PSIKIATER, bukan datang ke PSIKOLOG. Walaupun saat ini berkembang profesi Psikolog klinis.

ADHD, autisme, gangguan belajar, gangguan perilaku dan emosional anak, sindrom Asperger, dan retardasi mental adalah contoh gangguan pada anak yang ditangani oleh psikiater. Depresi, manik, gangguan bipolar, skizofrenia, stres, gangguan cemas, gangguan makan, gangguan yang berhubungan dengan orientasi seksual, dan gangguan kepribadian adalah contoh gangguan pada orang dewasa yang sebaiknya langsung ditangani oleh psikiater.

Masalahnya banyak orang yang sakit kejiwaannya namun 'denial', merasa dirinya sehat, dan merasa cuma butuh konsultasi. Akhirnya mereka datang ke psikolog dan oleh psikolog tetap dirujuk ke psikiater.

Kalau Psikolog itu apa?

Sekarang kita lihat profesi psikologi. Psikologi adalah cabang ilmu humaniora dalam hal ini ilmu perilaku. Oleh karena itu pendekatan awalnya bukan dari sudut pandang 'mengobati orang sakit' karena psikolog bukanlah dokter.

Banyak orang menjawab bahwa bedanya psikolog dan psikiater adalah kalau psikiater bisa meresepkan obat sedangkan psikolog tidak bisa, tetapi psikolog bisa memberikan konseling dan psikoterapi.

Cara menjawab seperti ini adalah salah besar. Coba sekarang kita lihat bahwa ada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan bimbingan dan konseling. Jadi konseling bukanlah ciri khas psikolog karena kemampuan konseling ternyata juga dimiliki oleh guru, pendeta, pastor, pekerja sosial terlatih, dan lain-lain. Di Amerika, menjadi seorang konselor atau psikoterapis tidak harus menjadi psikolog terlebih dahulu.

Jadi apa ciri khas psikolog? Psikolog adalah profesi yang sejak kuliah di S1 kuat dalam bidang membuat alat ukur psikologi, seperti tes-tes psikologi, IQ, dan lain-lainnya. Kemudian berangkat dari tes-tes tersebut, psikolog dapat melihat aspek klinis dari gangguan psikologis. Psikolog yang profesional sangat menguasai interpretasi tesnya yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis atau mengevaluasi kondisi psikologis kliennya. Nah berangkat dari hasil evaluasi tersebut baru psikolog bisa membantu kliennya dalam hal konseling maupun psikoterapi, ikut membantu menangani kasus-kasus psikiatri.

Bagi mereka yang membutuhkan tes IQ, psikotes, tes bakat dan minat, dan lain-lainnya sebaiknya datanglah ke PSIKOLOG karena psikiater tidak bisa melakukan tes-tes tersebut. Psikiater di Indonesia hanya melayani tes kepribadian yang dapat mendeteksi patologi pada proses mental seseorang.

Berobat ke Psikiater dan Kecanduan

Ada lagi orang yang mengatakan bahwa jangan ke psikiater lebih dulu tetapi ke psikolog dulu karena kalau ke psikiater dulu pasti akan diberikan obat dan nanti jadi kecanduan obat penenang!

Nah ini jelas pendapat yang tidak benar, memangnya psikiater bandar narkoba?

Setiap dokter maupun psikiater tentu ingin agar pasien-pasien kita cepat berhenti dari minum obat dan segera sembuh. Lagi pula jika obat yang diberikan psikiater membuat kecanduan, tentunya sudah dilarang peredarannya.

Jadi, sekarang sudah jelas apa bedanya psikiater dan psikolog sehingga Anda sudah bisa menentukan ke mana akan pergi lebih dulu sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kategori: 
Back to Top